Selasa, 01 November 2011

TEOLOGI PEMBEBASAN


PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM
MENUJU TEOLOGI PEMBEBASAN
 (ASGHAR ALI ANGINEER)
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Ishomuddin, M. Si






Disusun oleh:
KAHARUDIN
201020290211025
PASCASARJANA
MAGISTER ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

MENUJU TEOLOGI PEMBEBASAN
(ASGHAR  ALI ENGINEER)



Pendahuluan
Adalah fakta bahwa kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan, ketidakadilan, dan semacamnya hingga tingkat tertentu masih merupakan realitas keseharian sebagian besar umat Islam di banyak belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak hal bisa dituding sebagai sebab, baik berupa anasir absolut maupun struktural-sistemik. Namun, terlepas apapun prime cause dari realitas dimaksud, impotensi umat Islam menghadapi kenyataan itu tentu ironis demi menyadari betapa sesungguhnya Islam sarat akan spirit revolusioner, nilai-nilai moral yang membebaskan, yang mendorong ke arah terciptanya tatanan hidup yang lebih baik, layak, dan manusiawi.
Banyak alasan yang bisa disebut mengapa ketakberdayaan itu tak kunjung usai. Salah satunya ialah ketiadaan motivasi religius. Sejauh menyangkut élanvital ajaran Islam sendiri, fakta ketakberdayaan umat itu memang berkait rekat dengan ketiadaan motivasi religius yang mampu berperan sebagai motivator perubahan, yang berperan transformatif dan menggerakkan mereka untuk membebaskan diri dari serimpung realitas sosial tak mengenakkan. Di situ kuncinya. Ketiadaan motivasi religius itu membuat apa yang disebut transformasi sosial1 nyaris tak pernah berlangsung secara signifikan di dunia Islam, termasuk Indonesia!
Dalam kerangka itulah studi ini bermaksud menggagas suatu reformulasi paradigmatik dari apa yang dikehendaki di sini sebagai teologi Islam transformatif-membebaskan. Studi ini sendiri merupakan sebuah library research (penelitian kepustakaan). Ia dilangsungkan dengan desain library research (penelitian kepustakaan). Data critically dipulung dari berbagai sumber, antara lain teks-teks al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengandung spirit pembebasan, literatur yang berkait langsung dengan wacana teologi pembebasan Amerika Latin, aneka buku/kitab yang mengungkap realitas teologi Islam klasik (‘ilm alkalâm), dan yang mengulas beragam discourse seputar sosialisme, kapitalisme, dan marxisme. Proses akumulasi data dilakukan dengan penggunaan content analysis (analisis isi) untuk selanjutnya, setelah terhimpun, didekati secara kritis dengan metode hermeneutik dan deskriptik.

Pembahasan
a.   Kondisi Sosio-Politis
Konstruksi sebuah gagasan atau pemikiran, sebagaimana di nyatakan karel stenbrink, merupakan hasil dari proses dialektika, komunikasi dan ekspresi subjek dengan realitas sosialnya. Artinya mengkonstruksi sebuah pemikiran seseorang, pelacakan melingkupinya merupakan sebuah keniscahayaan. Dalam dan pemahaman akan situasi dan kondisi sosial yang konteks ini, untuk mengetahui secara tepat konstruksi pemikiran yang dibangun Engineer, pelacakan latar sejarah dan karir intektualnya menjadi sesuatu yang mesti dilakukan.
Engineer lahir pada 10 Maret 1940 di India, tanpa informasi yang jelas tentang daerah tempat Engineer lahir dan banyak menghabiskan hari-harinya dikenal sebagai lahan produktif bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran kritis dan liberal. Di daratan ini lahir para pemikir besar dalam konteks dalam pemikiran Islam modern, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid, Amir Ali, Parwez, Abu Kalam Azad, Iqbal dan Fazlur Rahman. Realitas ini secara geo-sosiologis menguntungkan karena memudahkan Engineer untuk mengakses pemikiran-pemikiran sehingga tidak mengherankan jika kemudian pemikiran Engineer banyak bersentuhan dan di warna pemikiran-pemikiran tokoh seperti Iqbal dan Abul Kalam Azad. [1]
Melirik tahun kelahirannya, dapat di pastikan bahwa kondisi sisio-politik di India saat itu saat di warnai ketegangan antara Hindu dan Muslim dalam perbuatan otoritas politik, setidaknya, ada dua hal yang mendasar yang memicu munculnya ketegangan tersebut. Pertama, munculnya kesadaran komunisme pada masyarakat Hindu dan Muslim sebagai akibat keberhasilan kebijakan politik fregmentasi kebijakan politik yang memberlakukan sistim pemilihan yang membagi India menjadi komunitas Muslim dan Hindu yang dijalankan Inggris. Kedua, adanya sikap yang saling curiga dan kesalahpahaman diantara ke dua komunitas tersebut. Para pemuka muslim mencemaskan bahwa pihak Hindu sebagai kekuatan mayoritas akan mengeksploitasiakan merendahkan pihak Muslim. Sebaliknya, para pemuka hindu menduga bahwa pihak Muslim tengah mencari kesempatan untuk meneguhkan kembali supremasi politik mereka di India. Perseteruan ini kemudian mendorong dan memunculkan berdirinya negara Pakistan yang mayoritas Islam pada 14 Agustus 1947 dan negara India yang mayoritas Hindu pada 15 Agustus 1947.[2]
Walaupun komunitas Islam  telah mendirikan negara sendiri, bukan berarti di India tidak terdapat komunitas Muslim. Sebagaimana dicatat lapidus dalam A Hitorys of  Islamic socielities, masyarakat muslim sebagai warga minoritas di negara India menempati posisi yang sangat memprihatinkan. Mereka menjadi masyarakat yang terarginalkan dalam politik, pendidikan, ekonami, sosial, maupun pemerintahan. Realitas ini pada gilirannya berpengaruh kepada corak keberagamaan dan sosial mereka, yaknik menjadi bersifat konservatif dan lebih tradition minded. Tokoh-tokoh Muslim India lebikh menekankan komitmet keagamaan individual dan menghadirkan Islam dalam terma ”ketaatan” serta berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar